Cerita campaign
Bayangkan harus mengambil air wudu dengan kucuran yang sangat kecil, atau bahkan harus menahan dahaga dan menunda bersuci karena sumur di pesantren mengering. Inilah realitas pahit yang dirasakan oleh ratusan santri penghafal Al-Qur'an setiap harinya.
Air adalah sumber kehidupan, namun bagi santri di Ponpes Tarbiyatul Mubtadiin (Tegal), Ponpes Al Ihsan Al Islamy (Tegal), Ponpes Al-Falah (Magelang), Ponpes Darul Muttaqin (Batu, Jawa Timur), serta beberapa pesantren lainnya, air bersih menjadi barang yang sangat langka.
Mayoritas dari mereka tidak memiliki sumber air yang memadai. Kalaupun ada, debit airnya sangat kecil dan tidak mencukupi kebutuhan ratusan santri untuk bersuci, memasak, dan mandi. Bahkan, beberapa sumber air utama sudah mengering total.
Untuk mengatasi krisis ini, kami berikhtiar melakukan langkah nyata:
Pengeboran Sumur Baru: Membuka akses air bersih yang layak dan melimpah di area pesantren
Pipanisasi: Mengalirkan air bersih langsung dari sumber air terdekat menuju kawasan pesantren yang membutuhkan.
Rasulullah SAW pernah ditanya oleh Sa’ad bin ‘Ubadah RA:
"Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?" Beliau menjawab: "Sedekah air." (HR. Abu Daud no. 1681)
Setiap tetes air yang digunakan para santri untuk berwudu sebelum beribadah, mandi sebelum menuntut ilmu, dan minum saat menghafal ayat-ayat Allah, akan menjadi saksi kebaikan serta pahala jariah yang tak pernah terputus bagi Anda.
Jangan biarkan para penuntut ilmu Al-Qur'an kesulitan mendapatkan air bersih. Mari bersama-sama kita alirkan keberkahan dan kemudahan hidup untuk mereka melalui sedekah air.